Jumat, 28 April 2017

Membuka Acara Badminton Dispora Lebak Menggunakan Bahasa Sunda


Gebyar Milad IMALA ke 18 mempersembahkan turnamen badminton se Kabupaten Lebak di gedung GOR Jayabaya.
Turnamen yang di ikuti tingkat pelajar dan umum ini dibuka oleh perwakilan Dispora Lebak Bapak Dani, dalam sambutanya Dani menggunakan bahasa sunda karena berbarengan dengan seba baduy dan himbauan bupati untuk menggunakan bahasa sunda. "Perlombaan anu positif kudu didukung ku urang kabehan supados tiasa ningkatken prestasi". Katanya.
Selain itu perwakilan PBSI yg diwakili bapak dwi mengatakan semakin banyaknya turnamen akan berdampak positif bagi olahraga badminton. Karena dapat memberikan kesempatan dan peluang untuk mengukir prestasi. Imbuhnya.
Senada dengan ketua pelaksana Dedin Wahyudin. Tujuan mengadakan turnamen badminton untuk membumikan olahraga yang sangat digemari masyarakat, sehingga diharapkan badminton menjadi cabor berprestasi di kabupaten Lebak.
Dalam pembukaan turnamen badminton ini di hadiri langsung ketua Umum IMALA Dudi Haryudi.

Selasa, 11 April 2017

Lawan bentuk intimidasi


Penyiraman air keras ke penyidik novel baswedan merupakan tindakan biadab. Bentuk intimidasi dan kejahatan yang dilakukan kepada penyidik senior KPK ini disinyalir untuk menutupi kasus mega proyek E KTP.
Ikatan Mahasiswa Lebak (IMALA) mengutuk tindakan biadab ini, karena sudah mencederai proses hukum. Negara harus bertanggung jawab terutama bapak presiden dan kapolri yang harus segera mengusut tuntas tindakan kejahatan ini. Jangan sampai negara ini dikuasai  teror dan bentuk intimidasi. Sangat bahaya sekali jika negara diam.
IMALA mengajak setiap elemen masyarakat dan mahasiswa untuk bersama sama melawan bentuk tindakan primitif ini. Penegakan hukum tidak boleh di intervensi dalam bentuk teror maupun kekerasan. Kita harus lawan bersama sama kata ketua umum IMALA dudi haryudi.

Mari kita do'akan novel baswedan segera sembuh dan kita dukung terus KPK mengusut kasus korupsi yang jelas jelas sudah merugikan negara. kata dudi.

Senin, 03 April 2017

HILANGNYA PRINSIP CHECK AND BALANCE DALAM SISTEM PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN LEBAK


Berdasarkan Undang-undang No. 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah bahwa yang dimaksud Pemerintah Daerah adalah penyelenggaraan urusan daerah oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip negara kesatuan negara republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Dasar 1945.
Dalam menjalankan pemerintahan yang baik menurut prinsip otonomi daerah maka pemerintah daerah harus berupaya untuk menggunakan hak, wewenang dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus  sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat harus berdasarkan keadilan pancasila.
Dalam penyelenggaraannya yang diberikan undang-undang begitu besar terhadap pemerintah daerah, ditambah dengan adanya prinsip dekonsentrasi pemerintahan tentu ini akan memberikan peluang besar terhadap inkonsistensi dan penyelewengan atau penyalahgunaan wewenang pemerintah daerah. Tentu hal ini perlu adanya pengawasan (check and balance) antar lembaga negara.
Prinsip checks and balances dalam negara hukum (rechstaat) menurut Montesquieu harus ada pembagian kekuasaan (separation of power) yang didasarkan pada trias politica yakni kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif. Masing-masing lembaga ini harus saling mengawasi dan saling mengontrol.
Dalam fungsinya, kekuasaan eksekutif dalam hal ini bupati mempunyai hak dan wewenang serta kewajiban untuk menyelenggarakan pembangunan dan menjadi eksekutor pelayanan masyarakat, tentu bupati harus dikontrol dan diawasi oleh lembaga legislatif dalam hal ini DPRD.
Begitupun DPRD dalam fungsinya mengatur, membuat peraturan dan kebijakan daerah harus diawasi oleh lembaga yudikatif, dari fungsi ini bertujuan agar tidak ada peraturan yang bertentangan dengan undang-undang dan tidak ada keberpihakan kebijakan untuk sebagian elite kepentingan, semua harus berdasarkan keadilan dan kepentingan masyarakat seutuhnya. Tujuan inilah daripada amandemen UUD 1945 yang ke 4 dimana prinsip check and balance system harus berjalan dan efektif agar tidak ada ruang-ruang untuk menyalahgunakan kekuasaan.
Faktanya adalah pemerintahan di Kab. Lebak yang berdiri sejak 2 Desember 1828 hingga hari ini tahun 2017 prinsip negara demokrasi masih jauh daripada primsip yang dicita-citakan pancasila. Kendali kekuasaan masih bersandar pada beberapa orang saja, kekuatan ekonomi masih dipegang oleh beberpa orang saja yang saya kira masyarakat tahu tentang siapa saja diantara beberapa orang yang dimaksud penulis.
Penulis tidak menyudutkan pihak tertentu hanya saja penulis resah dan galau melihat keadaan Lebak yang terus seperti rezim Soeharto, banyak istilah kajawaraan untuk menakut-nakuti masyarakat. Tentu ini menjadi masalah apabila kita biarkan, ini akan menjadikan sistem demokrasi yang saya sebut sebagai demokrasi kemunduran. Kalau saya boleh membandingkan antara demokrasi kebablasan dan demokrasi kemunduran maka demokrasi kemunduranlah yang lebih berbahaya daripada demokrasi kebablasan. Kita akan mengulang sejarah orde lama dan orde baru, dimana masyarakat sulit  dan bungkam terhadap ketidak adilan karena rasa takut. Masyarakat takut diintimidasi dan disiksa, para pejabat takut dipecat oleh atasannya, bahkan perwakilan rakyat yang ada di DPRD tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak bisa mencegah terjadinya kooptasi kekuasaan (impoten).
Sistem oligarki yang meruntuhkan rezim Soeharto 1989 tidak semata-mata karena kebencian masyarakat terhadap penguasa melainkan karena tidak adanya sistem distribusi (distribution of power) di dalam internal pemerintahan. Adanya politik dinasti di kabupaten Lebak ini bukanlah suatu kemajuan tapi suatu kemunduran didalam negara yang menganut negara hukum. Saya lihat dan saya rasakan sebagai warga Kabupaten Lebak sejarah itu terulang kembali di pemerintahan Lebak. Hal ini yang menjadi kekhawatiran penulis apabila rezim ini terus menjadi momok menakutkan bagi masyarakat, akan berakibat pada tidak stabilnya pemerintahan dalam menjalankan tugasnya sebagai pelayan masyarakat. 
Solusi yang mungkin bisa penulis tawarkan adalah kembali kepada konsep good governance dan clean governance yakni sebuah legitimasi politik yang bekerjasama dengan institusi masyarakat sipil (civil society), kebebasan berasosiasi dan partisipasi, memperkuat sistem yudisial yang adil dan dapat dipercaya serta memperkokoh fungsi DPRD dan para tokoh (good citizen) untuk mengontrol dan mengawasi jalannya pemerintahan yang baik (good parlemen).

Writer : Muhamad Zaenuri Kabid 1 IMALA  
 

Sabtu, 01 April 2017

Mimbar bebas


Gebyar Milad IMALA ke 18 akan  menyelanggarakan kegiatan mimbar bebas. Mimbar bebas merupakan kegiatan penyampaian pendapat di muka umum yang dilakukan secara bebas dan terbuka tanpa tema tertentu.Hal ini sesuai dengan amanat konstitusi yaitu Pasal 1 UU Nomor 9 Tahun 1998 Tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat Di Muka Umum.
Mimbar bebas ini bertujuan untuk menyampaikan aspirasi masyarakat lewat orasi ilmiah tentang Ke lebakan. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan ada masukan, saran dan konsep yang membangun untuk daerah kab.Lebak.
Adapun kegiatan akan dilaksanaka pada:
Tanggal : 01 Mei 2017
Tempat: GOR ONA Rangkasbitung
Peserta mimbar bebas dari berbagai elemen yaitu Unsur Pemerintah, DPRD,  OKP,  BEM, ORMAS, LSM dan KOMUNITAS.
setiap perwakilan peserta berorasi dengan durasi 10 menit  dan dipandu oleh moderator.
Setiap orasi akan di dokumentasikan baik itu visual maupun auditori dan akan dijadikan arsip dalam buku pergerkan Kab. Lebak.
Dengan penuh hormat, kami mengundang seluruh elemen masyarakat kab. Lebak untuk hadir dalam acara tersebut. Mari Kita bangun kab. Lebak dengan cara konstruktif.
"Juangmu takan terhenti takakan mati"
Mengetahui,
Ketua Umum
IMALA
Ttd
Dudi Haryudi

Kamis, 30 Maret 2017

PEMERINTAH TIDAK SERIUS DALAM MELAKSANAKAN MUSRENBANG RKPD KABUPATEN LEBAK


Dalam rangka menyusun perencanaan pembangunan di tahun 2017 ini, pemerintah telah melaksanakan agenda Musyawarah Rencana Pembangunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (Musrenbang RKPD) Kabupaten Lebak pada hari Rabu s/d Kamis 28-29 Maret 2017.
Dalam agenda tersebut pemerintah telah menuangkan sejumlah program kerja dalam draft musrenbang yang kiranya memerlukan dana sebesar 2,4 T. Upaya pemerintah dalam melaksanakan musyawarah tersebut telah mengundang beberapa instansi baik intansi pemerintahan maupun non pemerintahan termasuk ormas dan kemahasiswaan.
Sebagai mahasiswa kami menilai banyak kecerobohan dan ketidakseriusan pemerintah dalam melaksanakan musrenbang tersebut, bahkan ketika kami ikut dan hadir dalam forum tersebut kami bertanya-tanya, kami hadir untuk ikut melaksanakan proses musyawarah atau hanya hadir untuk menyaksikan penetapan sejumlah program kerja yang sebelumnya sudah dibuat dan disusun dalam sebuah draft. Mengapa kami katakan bahwa pemerintah daerah tidak serius dalam melaksanakan musrenbang tersebut, ada beberapa indikator dasar yang tidak terpenuhi dalam proses musrenbang tersebuut:
1. Sebelum dibuatnya draft perencanaan program yang akan dibahas melalui musrenbang hendaknya pemerintah melihat dampak sosial (soscial impact) dan apa yang  menjadi kebutuhan masyarakat, sehingga manfaat dari pembangunan tersebut dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
2. Program yang dicanangkan dalam musrenbang tersebut haruslah berdampak secara universal dalam arti bahwa harus ada pemerataan pembangunan, mulai daripada pembangunan desa sampai kota. Karena dengan terlakssananya pembangunan secara merata baik pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan dan sebagainya yang sifatnya menjadi kebutuhan masyarakat harus memberikan keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat.
3. Proses daripada pembahasan musyawarah perencanaan pembangunan tersebut harus dibahas melalui musyawarah mufakat, bukan atas dasar kehendak politik (political will) yang dibangun oleh segelintir kelompok elit.
Kami Ikatan Mahasiswa Lebak (IMALA) menilai, kalau saja setiap tahunnya proses musrenbang terus dilaksanakan seperti ini, akan melahirkan banyak celah untuk melakukan korupsi. Yang sama-sama kita tahu bahwa di Kabupaten Lebak tercinta ini, rentan terhadap korupsi, dan pencucian uang. Mengapa demikian, karena fungsi daripada distribution of power atau pembagian kekuasaan Eksekutif, Legislatif, dan yudikatif adalah dengan adanya checking and balancing. fungsi inilah yang kami lihat sudah mulai hilang di kabupaten Lebak.

Selasa, 28 Maret 2017

Rilis oke

Ikatan Mahasiswa Lebak (IMALA) merayakan hari jadinya yang ke 18 tahun yang bertepatan pada tanggal 02 Mei. Adapun Rangkaian acara kegiatan pra milad dimulai dari tanggal 26 April sampai 02 Mei 2018. Dimulai dari kegiatan pasar rakyat (bazaar), pelatihan jurnalistik, kompetisi badminton, rangking 1, festival band, goes to baduy, mimbar bebas, charity day dan malam puncak.

IMALA merupakan Organisasi primordial yang mengedepankan 3 pilar perjuangan yaitu Intellectual Movement, Moral Force dan Independency. Serta Daya kritis, analitisnya sebagai ujung tombak pergerakan.
sudah hampir 2 dekade IMALA menunjukan eksistensinya dan mewarnai hiruk pikuk, asam garam perjuangan di Kab. Lebak, tidak mudah untuk bertahan sebagai organisasi kedaerahan yang sempat banyak penolakan dari berbagai pihak. Akan tetapi, IMALA tetap tegak berdiri dan konsisten
"Pohon semakin tinggi semakin diterpa Badai" tetapi Akarnya akan terus menancap dan semakin kuat.
Perjuangan IMALA tidak akan pernah berhenti bahkan tidak akan mati prinsip yang terus ditularkan sampai lintas generasi. Sesuai dengan slogannya "Juangmu takan terhenti takakan mati"
Ke 18 tahun IMALA membawa tema besar "TRANSDITIONAL"  dan subtema "Edukatif, Progresif dan Berintegritas"
Transditional merupakan cara berpikir yang mengedepankan modernisasi akan tetapi tetap menjunjung tinggi nilai -nilai tradisi (kedaerahan)
Meskipun IMALA organisasi primordial akan tetapi harus berpikir global. " think globally act lacally" berpikir global berjiwa lokal. Sepirit inilah yang terus kita perjuangkan sebagai organisasi inklusif dan modern.

Jumat, 24 Maret 2017

Rilis

Ikatan Mahasiswa Lebak ( IMALA) bersama ASIPA menyelenggarakan saembara Desain kaos Lebak yang bertujuan untuk mengenalkan Kab Lebak dengan industri creatif Lokal.
Acara launching desain kaos lebak yg dihadiri pelaku usaha dan ukm se Kab. Lebak bertempat di Plaza Lebak.
IMALA sebagai organisasi yang sangat cinta kedaerahan terus bekerjasama dengan pelaku usaha dan industri creatif dalam mempromosikan kab Lebak keseluruh nusantara dan dunia. Sekretaris Umum IMALA Chandra Nugraha mengatakan sebagai daerah yg kaya dengan budaya dan wisatanya perlu di gerakan industri creatif sebagai penjaga dan niali nilai budaya serta melestarikan kekayaaan Lebak.
Selain itu ketua ASIPA Eka Nurwana Lebak harus keluar dari zona nyaman dan siap bersaing dengan daerah lain.  Lebak juga bisa donk. Ujarnya.
Turut hadir Bupati Lebak Hj Iti Octavia Jayabaya. dalam sambutanya sangat mengapresiasi acara launching kaos ini. Kita harus bangga produk Lebak mari kita  bela beli produk Lebak . Karena bukan kita siapa lagi yang membangun Lebak, sinergi dengan organisasi, komunitas dan ukm sangat penting dalam mengenalkan produk industri creatif Lokal. Kata iti.